Ingatan Kemarin
KKN? Sungguh tak menyangkah sudah sampai di titik ini. Reminder, saya adalah angkatan Corona yang tidak merasakan gempuran Orientasi PBAK offline, di dalam bayangan yang pasti seru berhadapan banyak orang, berkomunikasi, dan besosialisasi bersama dengan orang-orang baru, hebat, keren, dan kece. Walau setengah dari masa kuliah kami beralih secara online, rasa campur suka dan duka tetap saya hadapi di masa nya. Saya yakin pasti ada hikmah dari setiap apa yang terjadi untuk kehidupan berikutnya.
Tak terasa waktu telah saya jalani dan waktu melewatkan semua masa keprihatinan itu ke zona baru yaitu bebas dari corona. Awal tahun 2021 menjadi pembuka bagi saya untuk pertama kali menginjakkan kaki ke kampus. Semester demi semester saya berjuang, bulan demi bulan telah saya lalu dengan usaha terbaik saya untuk belajar dan terus belajar.
Memasuki semester 7, saya merasa senang namun sisi lain sedikit sedih, tak lagi secara intens duduk di bangku dan belajar di kelas, juga bertemu kawan-kawan yang kocak gaming, bahkan untuk mendaftar KKN saja kami barengan, di hari yang sama di waktu yang sama di detik yang sama, berharap bakal ada sedikit keajaiban bertemu satu jurusan, namun apalah semua itu, kami masing-masing berbeda penempatan KKN.
Dengan semangat, saya harus terus berjalan mencari ilmu dan mengembangkan diri sebagai penuntut ilmu. Saya selalu berdo’a kepada yang maha kuasa atas hidup ini agar selalu diberi kemudahan setiap langkah yang saya ambil dan menciptakan diri untuk menjadi value baik dan semakin baik bukan hanya untuk diri namun juga untuk sekitar.
Pertualangan untuk sampai ke titik puncak tujuan, memang sebuah keharusan dalam perjalanan ini, untuk terlebih dahulu menghadapi liku-liku proses real life. Begitu lah kiranya gambaran awal semester 7, dimulai dengan sebutan KKN.
(KKN) Kuliah Kerja Nyata, mendengarnya saja sudah terlintas di benak dengan satu bulan lebih, teman, posko, warga, proker dan semua itu merupakan dasar haluan saya dan teman-teman sebagai bentuk aksi, beradaptasi dan mengabdi kepada masyarakat.
Bertemu teman-teman baru dari berbagai jurusan yang berbeda talenta dan kepribadian. Merenungi apa mereka seru? Apa mereka sefrekuensi?, Semua terjawab ketika kami bertemu di hari pertama KKN (Duwarrr). Awal tak menyangka bisa gabung kelompok yang unik, aneh dan di isi pelawak. Memang semua tak bisa dipilih, nyatanya Allah sudah memberikan porsi yang tepat dan clop ini untuk saya dan kami terima dan jalani.
Perkenalan awal kami, merasa biasa saja, tak ada yang istimewa di perjumpaan ini, analisis hati berucap “wadak leehh terlihat tidak selaras”, Apakah ini nyata? Akan sering menatap wajah moodyan mereka? Yang akan hidup sebulan lebih bersama mereka, berkomunikasi setiap hari membahas proker dan kinerja masing-masing, akankah rampung??. Tak dapat memikirkan semuanya saya tetap stay cool, berusaha positif thinking, positif vibes, berjuang dan kuat menikmati hari-hari berikutnya di Desa Loa Ulung ini yang sangat indah.
Setiap harinya telah saya lalui dengan mengenal karakter masing-masing dari mereka, ada yang pertama kali menemukan orang seperti dia, ada yang di luar nayla, ada yang otentik, rumit, jereh, kompleks, membisu, pelik, atmosfernya kuat, canggih, dan hebat di bidang atau skillnya masing-masing juga yang lain-lainnya bisa masuk kok, hehe.
Mengingat, namanya manusia, memang tak ada yang sempurna begitupun diriku. Bila ada sisi terbatas dari mereka baik itu kecil maupun besar, saya selalu refleksi melihat kekurangan diri sendiri dan menjadikan ini pelajaran bagaimana seharusnya menempatkan diri dan menyikapi hal-hal kecil atau pun persoalan besar yang tidak perlu di besar-besarkan.
Pada dasarnya gak ada sesuatu yang menjadi hak kita. Islam mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang saya saya dan saya karena itu artinya ego. Sering muncul ketika merasa bahwa hanya kita yang mendapatkan tuntutan untuk berkorban dan yang lain tidak, bisa jadi ini muncul dari ketidaktahuan, bahwa setiap orang itu memiliki lanskap pengorbannanya sendiri-sendiri ada yang berkorban untuk keluargannya, berkorban untuk pasangannya, berkorban untuk saudaranya, berkorban untuk agamanya, dan lain sebagainya. Maka jangan pernah merasa bahwa yang berkorban hanya kita, tapi bahwa setiap orang punya pengorbannya sendiri-sendiri yang kemudian kita tidak tau.
Itulah hidup, sejatinya hidup ini tetap ada yang harus berkorban untuk berjalan wajar. Oleh karena itu membuat kita special dan bentuk wujud cinta Tuhan untuk kita. Ada qoutes yang sangat keren “Jadilah yang terbaik untuk pasukan, bukan menjadi terbaik di dalam pasukan”.
Kalau menurut saya (manusia itu rumit, bila sikap dan pemikiran yang tak sejalan dengan real etika umum).
Tak ingin berlarut seperti lagu jalan yang jauh jangan lupaaa pulang, sumpah gak nyambung.
Sisi sana, saya terpikat menyaksikan dan menikmati keindahaan sunrise dan sunset yang mengahampiri ku setiap harinya, membuat diri sadar dan percaya selalu ada hikmah dibalik setiap takdir-Nya.
Bahagia rasanya bisa ditempatkan di Desa Loa Ulung, warga yang sangat welcome, ramah dan baik.
Mendengar KKN sudah tak asing buat warga Loa Ulung, memang setiap tahunnya ada anak KKN yang datang ke desa Loa Ulung, mereka senang dan berharap bukan hanya kesan dari proker-proker kami saja yang difokuskan namun utamanya yaitu kesan ketulusan bersosialisasi dari KKN itu sendiri ke warga adalah kesan terbaik buat mereka. Mendengar hal tersebut semakin lah jelas apa tugas kedepannya selama mengabdi di Desa Loa Ulung.
Keberadaan saya dan teman-teman disambut sangat baik oleh anak-anak, dari awal menapakkan kaki dan memasang banner posko UINSI, satu demi satu anak-anak berdatangan menanyakan kedatangan KKN UINSI.
Kanak halus : “Hallo kakaen”.
Ada juga yang langsung bertanya,
Si ujang bocah : “Sampai kapan kakak disini?”, dengan muka polos.
“Dek baru saja pasang banner”, Jawab ku antara syok dan tertawa.
Dilanjut menanyakan nama-nama dari KKN lainnya dan banyak pertanyaan-pertanyaan terlontar dari mereka yang sebisa saya dan teman-teman menjawab pertanyaan mereka yang lucu dan seru.
Beberapa hari posko di sana, senang banget walau tidak ada tetangga karena kebetulan posko kami di tempat (LPM) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan berdekatan juga dengan kantor desa serta kebun desa yang hanya ramai di jam kerja saja, sisanya di temani ular juga paduan suara antara kodok dan jangkrik, terkadang burung hantu juga ikut join, krikik.
Hanya di hari-hari tertentu, sore akan ramai dengan warga yang bermain volly, bulu tangkis dan sepak bola. Juga anak-anak setiap hari mendatangi posko dengan membawa cerita-cerita yang random, begitu seru dan senangnya saya bisa secepat ini akrab dengan bekesah kocak dan terasa kebersamaannya.
Hari berikutnya tak asik bagi anak-anak bila tidak pergi ke posko, hampir setiap harinya di jam istirahat atau sorean anak-anak berdatangan.
Kanak Halus (dengan pasukannya) : “Kakak-kakak, kak Intan, kak main yuk!”.
Tak rasa lelah letih, saya menghampiri mereka dengan senyuman, walau hanya duduk bareng mendengarkan cerita mereka atau hanya sekedar jalan-jalan happy itu sangat bermakna buat mereka.
Tak terasa keberadaan saya disana menginjak sepekan, dengan waktu sepekan saya dan teman-teman mempersentasikan program-program kerja kami yang akan kami kerjakan untuk beberapa hari yang tersisa, juga beradaptasi dengan warga sekitar dan mengexplore tempat-tempat wisata seperti Taman Gubang, Lagit Timur, dan Taman Seri dan masih banyak spotspot yang indah.
Keelokan Desa Loa Ulung yang berada di ujung pesisir sungai Mahakam. Suasana ini sangatlah damai dan tenang buat keluarga atau kawan-kawan yang ingin mencari darmawisata, yang tak kalah estetik dengan tempat-tempat terkenal atau viral lainnya.
Hari yang cerah, dengan melihat warga dan desa ini sudah sangat menutupi persoalan yang ada. “Awal yang bimbang memang sebuah proses perjalanan tim untuk mencapai tujuan bersama. Kekuatan tim adalah setiap individu anggota, Kekuatan setiap anggota adalah tim”.
Waktu sepekan lebih, kami mengunjungi TK terpadu kebetulan berdekatan dengan posko kami, TK terpadu ini satu-satunya TK yang ada di desa Loa Ulung. Untuk pertama kalinya saya mengajak teman-teman untuk pergi ke TK dengan semangat dan tak lupa selalu tersenyum menghampiri anak-anak yang lucu menggemaskan, baru saja duduk tiba-tiba ibu gurunya meminta saya untuk mengajar, FYI (dari semua teman KKN kebetulan hanya saya jurusan yang lebih condong mengajar) dengan wajah syok berat, pura-pura pucat, karna memang benar-benar disaksikan bukan hanya gurunya tapi juga orang tua murid memenuhi setiap sudut ruangan. Dengan bekal yang saya dapatkan akhirnya saya ambil alih, dengan memperkenalkan diri.
“Hallo adik-adik, sebelumnya ada yang kenal kakak, ada yang pernah lihat?
“Tauu, kakak KKN!”, jawab anak yang sering lihat aku beli jajan di warung desa.
“Kakak Intan!”, sudah jelas itu jawaban anak yang sering ke posko.
"Seru sekali yaa hari ini, bisa ketemu kalian semua..", Ujarku.
Dan dilanjut memperkenalkan kakak KKN yang lain dan bertanya tentang kesukaan, hobi, dan cita-cita.
Bel berbunyi menunjukkan waktunya anak-anak istirahat setelah itu bel berbunyi tanda masuk kelas kemudian anak-anak bersiap pulangan.
Kejadian lucu waktu saliman ada anak yang nangis kejer, tidak tau kenapa tiba-tiba saat saya memberi tangan untuk bersaliman, saya dan teman-teman malah di beri jari tengah fuck youuu, leeh bisa-bisanya sungguh gak habis fikri, huffft.
Hari berganti, saya dan teman-teman mendatangi TPA-TPA yang ada di desa ini, untuk bersilaturahim juga sekalian membantu mengajar, begitu gembira dan senangnya mereka melihat kedatangan kami yang di nantikan anak-anak karna memang setiap ke posko selalu bertanya, “Kak, kakak kapan ke TPA kami?”. Alhamdulillah sudah terwujud dan saya pribadi juga sangat senang di sambut baik oleh anak-anak dan ustazah-ustazahnya. Sehingga setiap senin sampai jumat jika tidak ada tugas lain, kegiatan rutin mengajar di tiga TPA sore dan malam.
Suatu waktu ketika saya datang ke TPA, anak-anak sudah berkumpul di luar pagar menunggu dan menyambut, belum saja sampai, standarpun belum turun mereka mengerumuni saya dan teman-teman, meraka sangat semangat.
“Kakak Intaaan, kakak intan, kak intan”, berseru berkali-kali tidak tau suara siapa-siapa saja yang memanggil.
Mereka berlari mengerumuniku dan menarik tangan dan berkata.
“Kak, saya duluan, kak saya duluan ngajinya, kak intan saya dulu kak!!!”, berseru berkali-kali tanpa henti.
Sudah ada yang tarik-tarik kedua tangan saya kanan kiri, di peluk-peluk, bahkan baju sudah gak stand by yaah bisa dibayang kan lah ya.
Melihat semangat mengaji mereka membuat saya terharu bahagia, selalu setia menunggu dan ingat selalu pesan ketika mengaji terus di tingkatkan.
Berlanjut hari berikutnya dari hasil keras mengajak juga meminta dalam sujud air mata di ujung sajadah yang berseason-season kaya judul film?, ekhem lupakan.
Akhirnya tepat di minggu ke tiga, terketuk pintu portal teman-teman mau bersilahturahim ke satu-satu nya sekolah yang ada di desa ini yaitu SD Negeri 001. (Susah beneh diajaki buhannya tuh hah). Tapi Alhamdulillah sudah terlaksana janji saya dan tidak di teror lagi dengan pertanyaan “kak Intan, kapan ngajar SD kami?”.
Alhamdulillah guru-guru di sana sangat welcome dengan kedatangan kami, dan sudah menunggu anak KKN UINSI. Oleh sebab itu pak guru meminta kami untuk mengajar Agama Islam dengan senang hati, saya dan teman-teman langsung gass dan berkenalan.
Selama mengajar betapa prihatin dan sedih melihat ada dari mereka yang masih belum lancar membaca dan menulis, ketika saya coba meminta maju dan membaca kata yang simpel saja yaitu “kamu” ntah kenapa malah dibaca “muka”. Sungguh hatiku remuk, nyatanya mereka sudah berada di kelas tinggi namun belum bisa dan lancar membaca dan menulis. Inisiatif muncul untuk mengajak anak-anak yang belum lancar, bisa datang ke posko walau bukan waktunya bimbel.
“Dek, nanti datang saja ke posko kakak yaa!, silahkan datang temui kakak, nanti kakak ajarin, siap?”, ucapku dengan posisi merangkul, sambil menepuk-nepuk pundak dan menyembunyikan kesedihan.
Sebenarnya masih banyak cerita unik saya dapatkan namun ini saja sudah cukup mewakili. Begitulah hari saya dan kawan-kawan mengajar SD dan untuk hari berikutnya.
Hari-hariku semakin ku menikmati tinggal di sana, bermain tebak-tebakan dan bercerita dengan segala keluh dan kesah kerandoman anak-anak, yang apa bila keluar posko saja atau berjalan-jalan melewati mereka, mereka selalu ramai melambai-lambaikan tangan, sambil berteriak memanggil “KAKAEN, Kakak Intan, Kak intan”, semangat mereka yang tak ternilai membuat saya sangat senang dan tersentuh, merasa diri ku ini adalah tentara yang di cintai, leehh. Semoga kelak kalian semua adik-adikku menjadi orang yang sukses, berakhlak baik nan bermanfaat untuk keluarga, agama dan bangsa. Kakak KKN sangat bangga dengan kalian semua, kalian hebat.
Juga warga desa yang sangat kompak dan begitu besar perhatian serta kebaikan mereka ke pada kami. Berkumpul bersama, bekesah, bercanda gurau dan saling membantu, membuat hubungan kami sangat dekat. Teruslah menebar kebaikan untuk warga desa Loa Ulung maju.
Selama KKN ini sungguh sangat nyata, nyatanya saya belajar banyak hal dari masyarakat dan hal-hal baru yang saya temui. Juga mendadak jadi multitalent dan jadi lebih aktif dan produktif, eheh.
Sungguh merasa jatuh hati dengan desa Loa Ulung dengan segala keindahan dan isinya.
Menghitung hari, sampailah dimana hari terakhir masa pengabdian saya di desa Loa Ulung. Saya bersama kawan-kawan berpamitan sebagai ucapan terima kasih dan permohonan maaf serta sapaan terakhir. Sungguh hati berat dan sedih meninggalkan desa yang memberikan saya khususnya banyak pelajaran hidup yang luar biasa yang mungkin belum pernah saya alami sebelumnya.
Konon hidup beragam tafsirannya, dan yang pasti hidup gak bisa diwakilkan. Banyak pelajaran di hidup ini, yang diajari tentang hidup, oleh siapapun. Kita tidak akan benar-benar memahami jika belum menjumpainya.
Ini adalah pengalaman berharga yang luar biasa bermakna, kenangan yang banyak memberi pelajaran untuk tetap terus belajar berkehidupan di hari-hari selanjutnya.
Salah satu Motivasi diriku yang di dapat dari pengalaman selama KKN, “Lakukanlah dengan tulus. Tidak peduli bagaimana akhirnya, itu adalah sebuah pengalaman terbaik dan kau akan bangga ketika melihatnya”. -intn
Terimakasih KKN23 UINSI
Terimakasih warga Desa loa Ulung
Saya Pamit.
Komentar